26 Juni 2009

Sastra Jambi: Sebuah Celoteh

Sastra makin lama menjadi sebuah komoditi keseharian. Hampir pada setiap media massa terdapat kolom atau rubrik yang mengangkat persoalan sastra dan seni budaya pada umumnya. Dan hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang baru baik dalam perbincangan awam maupun pada tataran pelaku, penikmat dan pemerhati sastra itu sendiri. Masih terbatasnya tingkat apresiasi terhadap sastra sangat dimungkinkan barangkali karena minimnya pengetahuan dan kemauan untuk menggali apa yang tercantum dalam ranah sastra itu. Namun apa sesungguhnya makna dan implikasi sastra tersebut dalam sebuah perilaku manusia berbudaya (human culture) dan terbentuknya komunitas baru (new comunity), belum terbayangkan bahkan belum terekonstruksi dengan baik. Dan jika dilanjutkan dalam arah pertanyaan lanjutan: Mampukah sastra mengarah pada sebuah imajinasi atau angan-angan terbentuknya suatu tatanan kehidupan berbudaya baru dalam kehidupan manusia ? Implikasinya.....

sastra kemudian menjadi sebuah kata yang konsumtif. Apalagi kalau diimbangi dengan ketidakmengertian implikasi dan komplikasinya.

Mengingat jagad kemanusiaan ditandai adanya pluralisme budaya yang lintas batas (trans culture), maka sastra sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang lambat laun menjadi sesuatu yang harus dilekatkan pada image manusia berbudaya. Dalam gerak lintas sastra ini terjadi berbagai pertemuan antar komponen lain seperti bahasa sekaligus mewujudkan proses saling mempengaruhi.

Dalam konteks inilah perbicangan atas wavcana kesastraan menjadi suatu hal yang harus dikedepankan. Bentuk perbicangan itu bisa berupa diskusi sastra, dialog sastra, workshop, lomba-lomba seputar sastra, kongres sastra, temu sastrawan dan lain-lainnya. Terlepas dari segala kepentingan tentang wacana satra, sastra Jambi sangatlah perlu diakomodasi secara lebih intens. Supaya sastra Jambi yang juga merupakan salah satu kantung sastra nasional tidak ditinggalkan oleh pemeran sastra di daerah ini. Barangkali kita tidak bisa berkata banyak tentang kesastraan Jambi bila suatu ketika berdialog dengan komunitas sastra dari daerah lain. Untuk itulah keikutsertaan komunitas sastra kita dalam Temu Sastrawan Indonesia (TSI) yang diselenggarakan di Kota Jambi.

Temu Sastrawan Indonesia dikonsepkan sebagai ajang untuk mellihat peta pertumbuhan kesusastraan yang belakangan sering dipersoalkan terutama menyangkut pencapaian-pencapaian estetika, gugatan terhadap aktualitas, persoalan tematik sampai pada wadah sosialisasinya, yang selama ini tergantung kepada eksistensi media massa ( koran ). Tentu saja berbagai macam gugatan atau harapan yang muncul seputar kondisi ini – betapapun minimnya – sangat layak untuk diperhatikan dan diakomodasi. Setidaknya dari pandangan- pandangan yang terakomodasi tersebut dapat menjawab berbagai polemik yang belakangan juga semakin tidak mempercayai eksistensi sastra yang tumbuh sebagai resiko adanya sastra koran. Beberapa kalangan berpendapat, pemiskinan pencapaian estetik yang melatarbelakangi penciptaan sastra dipicu oleh kedangkalan para penulisnya itu sendiri dalam mereduksi bacaan ataupun fenomena yang akan memperkaya wilayah proses kreatifnya.

Selengkapnya...

22 Juni 2009

Blogger Merangin : Meretas Kesombongan Si Penipu

Catatan Kopdar #1:

Mengawali tulisan ini ada baiknya aku kutip Wang Yang ming (Tokoh Pengajaran Tradisional China): "Tak ada satupun di dunia yang bisa dicapai tanpa kemauan keras. Penguasaan setiap keahlian berasal dari kemauan kuat.” Dari filosofis itu, barangkali kita bisa mereduksi pemikiran tentang bagaimana, dan seterusnya untuk apa kita berbuat! Tentunya komitmen awal ini yang menurut saya penting dalam membentuk sebuah komunitas blogger Merangin, dengan asumsi bahwa setiap blogger tentu mempunyai motivasi yang berbeda dalam dunia maya. Barangkali sebagian kita motivasi ngeblog pada awalnya sekedar sebagai ajang aktualisasi diri, barangkali diantara kita ada yang mempunyai ambisi begitu besar untuk mewujudkan suatu keinginan awal mereka mengenal dunia absurd ini. Dan seolah-olah terlalu tendensius, sehingga mengesampingkan kebersamaan yang ingin di bangun.


Sebagai modal awal dalam langkah mewujudkan hal itu, tentunya dibutuhkan semangat kekeluargaan dan saling berbagi. Saya sendiri menyambut positif atas terbentuknya komunitas ini, namun lagi-lagi tujuan kita berupa keinginan sharing ilmu diantara sesama blogger memang perlu dikedepankan. Memang dalam mengelola "kelompok" seperti ini tidak gampang, dibutuhkan orang-orang yang selain kompeten dia juga harus memahami aturan umum baik sebagai blogger di dunia absurd ini maupun sebagai sibiasa dalam keseharian. Penekanan ini saya pikir tidaklah klise belaka, alasannya jika semua komponen ini sinergis tentunya harapan yang ingin dicapai semaksimal mungkin dapat diwujudkan.


"Kita ini penipu!" menyitir Kang Sawa, penipu dalam tanda kutip tentunya. Jika pakai rasio kita dalam kehidupan dunia absurd ini, memang ada benarnya. Namun pada kenyataan banyak diantara kita yang masih mempunyai idealisme yang mengagumkan sampai hari ini. Tentang siapa contohnya, tidak perlu saya sampaikan di sini. Kita rasakan saja dalam menyelami dunia absurd ini bagaimana perbandingan persentase ilmu-ilmu yang kita dapat dengan kebohongan-kebohongan para blogger atau netter itu ternyata sangatlah besar. Di sisi lain, kita pinter yang berkat mereka. Intinya kita retas saja ego dan rasa sombong yang ada pada diri kita masing-masing sehingga tatar kebersamaan itu akan terasa kental dan manfaat dari terbentuknya komunitas ini akan terasakan benar.


Sekali lagi, kita teruskan apa yang sudah kita mulai. Majulah blogger Merangin dalam membawa angin segar Merangin ke dunia absurd, tunjukkan eksistensi kita kepada dunia! Salam dari WongSASTRA, Bravo!
Selengkapnya...

16 Juni 2009

Tentang Blogger Merangin

Meski sebuah ide yang memang bukan suatu kebaruan namun niat ini adalah suatu yang menurut saya prestisius mengingat perkembangan "KiosNET" di bumi Merangin ini sedang menggeliat. Dan hal ini membuat saya tak segan memberikan predikat "salut" buat rekan-rekan yang berani memulai. Tersebab niat itu pasti ada di tataran kita semua dan tentunya semua mempunyai keinginan untuk mewujudkannya, tetapi...ya..tetapi lagi-lagi kita merasa kesulitan untuk sekedar memulai. Namun, tak dinyana beberapa waktu yang lalu saya mendapat undangan dari Bung Muslihun di kotak komentar pada blog saya ini. Dan memang hal ini saya tunggu-tunggu barangkali sudah sejak lama. Bebarapa bulan yang lalu saya sndiri sempat "ngota" bersama Bung Adi Suhara di sebuah warnet di kota Bangko. Topiknya tentu seputar komunitas blogger Merangin itu. Bagaimana.....

Blogger Merangin yang jumlahnya kian hari kian meningkat ini diakomodasi dengan membentuk sebuah komunitas. Waktu itu memang hanya sekedar bincang-bincang angin, dan hal itu berlalu saja hanya sebatas wacana. Dan saya juga sering googling dengan keyword "blogger Merangin" ternyata memang rencana itu baru sekedar wacana. Itu yang saya katakan rencana boleh segudang tetapi untuk memulai itu yang semua orang tidak memiliki kecepatan dan ketepatan bergerak. Harapan saya sebagai salah satu drifter yang selalu punyai keinginan berkelana di belantara maya, bahwa komunitas ini segera saja diwujudkan dengan membentuk blog atau website terserah bagaimana formatnya. Yang jelas pertemuan yang direncanakan di Pesanggrahan Kang Sawa semoga menjadi tonggak merangkum ide-ide kita. Perkara anggota saya pikir akan menyusul dengan sendirinya, sing penting ono umah disik. Insya Allah saya akan hadir di sana sebagai wujud simpati saya terhadap komunitas ini. Semoga!!

Selengkapnya...

15 Juni 2009

Cerpen Jen Kelana : MIMIKRI (1)


GELAP. Tiba-tiba pekat menyergapku. Aku tak tahu, kenapa pandanganku menjadi terganggu, padahal beberapa detik yang lalu mataku masih awas menguliti deskripsi kehidupan yang terpampang di depanku. Berjejal manusia melaut. Mengais rejeki dengan caranya masing-masing. Saling berebut mangsa dan tidak memikirkan bahwa diantara mereka juga ada aku. Makhluk sepertiku, misalnya. Sisa hangatnya matahari kurasakan menyelimuti diriku, barangkali mereka juga merasakan hal yang sama. Mereka yag setiap waktu berkeliaran di sini. Di trotoar-trotoar, emperan-emperan took, diperempatan jalan, di lampu-lampu merah, di pemukiman-pemukiman kumuh, pasti merasakan juga perubahan seketika ini yang membuatku terperangah. Betapa keheranan menyapaku tiba-tiba, sementara terik berteriak, gelap menetralisirnya. Ada apakah ?Panas yang menurut lazimnya selalu bersinergi dengan terang adalah sebuah aksioma yang tidak perlu diperdebatkan dalam tataran apapun. Semua orang akan berkata sama dan memiliki argumennya masing-masing. “Memang begitu seharusnya”. Demikian orang berujar. Tidak terkecuali anak-anak yang beribukan jalanan, anak-anak yang besar atas asuhan rembulan dan matahari, beumah berkolong langit serta berlantaikan bumi, Pak RT juga bilang seperti itu, Pak RW, Pak Kades, Pak Camat, Pak Bupati, Pak Gubernur, Pak Mentri juga Pak Presiden. Semua sepaham. Bahkan mereka sependapat dan terus berakhir pada kesepakatan dalam satu visi.

Ah, jika kesepakatan itu ada di tataran negeri kita alangkah damainya. Barangkali tidak perlu lagi berfikir keras untuk transisi kearah itu. Tapi ? Tidak usahlah aku bercerita. Aku malu melihat kesemrawutan dan coreng moreng yang terjadi. Biarlah ! Mereka sejauh ini masih tetap konsekuen dengan keyakinannya. Dan ketika mahasiswa juga turut latah membenarkan segalanya, pak dosen, pak dekan, pak rector pun ngomong serupa. Bah, apalagi sebangsa “anak-anak asuhan kapitalisme” mendukung pendapat itu. Mantaplah sudah. Public telah menyatukan persepsi, bahwa panas selalu bersinergi dengan terang.

Tidak ! Aku tidak sependapat dengan mereka. Aku tetap berkeyakinan bahwa terang tidak selalu berpasangan dengan panas. Biar saja orang bilang aku idealis, biar saja pendapatku itu terlalu ekstrim. Biar saja ! Euporia itu memang harus begitu. Tidak perlu meng”yes”kan semuanya. Aku pasti mempunyai opini tersendiri akan hal ini.

Suatu kali persoalan ini kubawa di tataran yang lebih tinggi. Pada kesempatan lain aku sempat berbincang dengan seorang doctor yang baru saja memberikan seminar ilmiah. Doctor itu secara refleks mengeryitkan alisnya ketika kuuraikan pendapatku itu. “Maksud saudara bagaimana,” tanya doctor itu seperi bodoh, atau memang bodoh. Aku mesem-mesem berlagak menguasai persoalan itu. Begitulah carakau, jika berhadapan dengan kaum intelak yang bagiku terlalu membanggakan diri dengan segala embel-embel yangdisandangnya. Belum tentu juga segala embel-embel yang berbaris-baris itu didapat dengan cara yang wajar. Aku seperti meremehkan kemampuan sang doctor tentang suatu yang kutanyakan. Bagaimana tidak, pertanyaan seperti itu menurutku tidak perlu berfikir untuk menjawabnya, seorang doctor memerlukan pemutarbalikan opini public terlebih dahulu.

Apakah seperti ini cara petinggi-petinggi negeri ini mengelabui rakyatnya, ya? Entahlah ! Dan aku sempat berkeyakinan, doctor itu hadir di seminar ini atas suatu maksud tertentu, tanpa ada keikhlasan pada dirinya untuk sekedar mengabdikan sebagian ilmunya. Padahal kehadirannya pada setiap acara seperti itu sangat besar imbasnya bagi public. Bukankah “enlightmen” bagi pedapat yang selama ini disalahtafsirkan adalah merupakan sumbangsih ? Dan jika inipun tidak menarik untuk kehadirannya, sudah bisa dipastikan beginilah mental kaum intelek itu. Orang sudah terlanjur berharap banyak terhadap mereka. Mereka dikaruniai kemampuan memutarbalikan opini public, setidaknya kesan yang ada selama ini, mereka adalah harapan bagi seluruh rakyat, bukan orang per orang dan bukan juga golongan, komunitas sebuah negeri.

Kemudian penyakit ini bukan terjadi pada sang doctor saja, bahkan mewabah hingga ke seluruh tatanan kehidupan. Celakanya lagi, kondisi ini ditengarai dengan adanya gejolak di mana-mana yang berakibat buruk terhadap sebuah kemampanan. Gejolak yang berakar dari persoalan-persoalan yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Dan seperti kekhawatianku semula, pada hari ini terbukti sudah.

Aku ingin menangis tapi air mataku hanya tinggal beberapa tetes, hingga aku takut suatu saat nanti tidak bisa lagi menangis. Terlalu seringnya kau membuang air mata, menangisi hal-hal yang sia-sia. Percuma, semua yang kita rasakan selama ini diperoleh dengan airmata darah. Aku yang hidup hari ini selalu berpesta atas seteguk kepentingan. Ironis. Simaklah teriak langit yang nyaris tidak sempurna terdengar belakangan ini. Parau, langitpun bosan menyapaku. Pada akhirnya, kekesalan yang terakumulasi sekian lama hari ini kurasakan hukumanya. Diturunkannya setitik keramahannya menegurku dengan banjir yang akrab melanda tanah ini. Ini persoalan baru yang relative serius. “Baru,” katamu. Bagaimana mengatasinya, aku hanya butuh tidur untuk melupakannya. Tidak perlu berusaha keras untuk menanggulanginya. “Kita hanya butuuh tidur,” katamu lagi. Satu bukti lagi, bahwa terang tidak selalu bersinergi dengan panas. Banjir terjadi ketika keadaan terang tetapi langit waktu itu cemberut, kesal, marah hingga wajahnya kelam membelam. Hitam.

Dan satu bukti lagi, aku yang sudah dipercaya oleh rakyat ternyata tidak selalu memberikan setetes kesegaran bagi yang mengajakku ke sana. Aku hanya bisa berceloteh tentang keinginanku sendiri, tidak lebih. Persetan, bumipun tidak ramah lagi.

Bersambung ……….


Selengkapnya...

12 Juni 2009

Monolog Butet

Seperti suara-suara purbawi yang senantiasa memberi nuansa insani, seperti ini mestinya sastra kita. Dan mestinya juga nilai ini ada yang menjaganya, agar tetap segar dan memberi makna sastra yang sesungguhnya. Belakangan ini santer terdengar hingga pada telinga yang tuli sekalipun, tentang sastra pesanan. Wah, apalagi ini? Belum lagi kisruh sastra kapitalis dan sastra nonkapitalis yang juga entah bagaimana...

Berkenaan monolog Butet pada deklarasi pemilu damai pada pilpres 2009 pada 10 Juni, hal ini banyak yang menilai dan mempertanyakan kapasitas Butet berbicara di acara itu. Aku berpikir, tidak semestinya tampil di acara itu dengan membawa-bawa embel-embel kesastraannya. Atau sibutet dipesan dan mendapat ongkos yang begitu besar atas monolognya hingga melunturkan batas yang jelas antara politik praktis dan sastra. Jika mengutip Radar Panca Dahana, bahwa monolog butet salah tempat dan tendensius. Memang ada benarnya juga, perkara seni dan budaya mestinya bukan segmental dan bukan partisan apalagi budaya pesanan.


Salah tempat! Tetapi siapa yang bisa disalahkan dalam hal ini ? Butetkah, penyelenggarakah, pemesankah atau .... siapa sajalah yang punya kepentingan untuk itu. Masa bodolah, yang jelas sebagai wongsastra saya merasa teriris perasaannya ketika sastra budaya dikomersilkan seperti itu, kemudian bukan pada tempatnya butet ada di acara seperti itu. Akan lain halnya jika butet melakukannya di gedung kesenian, di sanggar sastra atau di manapun asalkan kapasitasnya adalah sebagai seniman yang selayaknya menyadari bahwa sastra untuk sastra, budaya ya untuk budaya. Bukan malah di acara resmi kenegaraan yang sifatnya menurut saya sangat sakral dan memang tak perlu adanya sikap yang dapat mengurangi nilai kesakralannya.

Lagi-lagi sastra budaya pesanan. Mestinya apa yang disampaikan juga merupakan pesanan si pemesan dan tentunya dengan embel-embel pesanan pula. Oh ya Bung Butet saya pesan, saya minta apa yang saya pesankan kepada sampeyan. Sehingga pesanan saya sampai kepada saya sesuai dengan pesan si pemesan.Semoga tidak, ya!

Selengkapnya...

18 Maret 2009

Sajak-sajak Jen Kelana : Pada Sesipa

Sajak-sajak dedikasi ini merupakan sebagian kesan yang kuperoleh atas apa, siapa dan bagaimana WongSASTRA saling berinteraksi. Mungkin saja ada kekaguman, mungkin saja ada kedengkian, barangkali saja ada rasa gundah yang berkepanjangan. Dan apapun dampaknya inilah mereka.............

GERANGAN SIAPAKAH

Gerangan siapakah engkau, wahai
berdiri mangu di jalan malam hitam
di mana terkubur cerita masa silam
yang mengkristalkan warnawarni hingga
memancar setitik menelan kegelapan

Gerangan siapakah engkau, duhai
berkata sendiri di setiap terhamburnya waktu
di mana nurani tidak lagi penuh janji
adakah malam menjadi dendam lalu menjeratmu
adakah sepi menjadi seteru lalu membiusmu
adakah impian menjadi hamba hingga
menidurkan jasad dan bathimu

Gerangan siapakah engkau,
yang gelisah menunggu kegaiban
yang resah melihat benar disamarkan
yang risau mendengar bisikan melenakan
Selalu saja,
bimbang menorehkan mual
hingga janji hanya tinggal puisi
tersangkut di langit tak bertepi


Campus, Januari 2002


Di Depan Tungku
: mbokku


Begitu,
tidak pernah lelah meghitung waktu
walau tertatih satusatu
mengeratkan kharisma di mataku
menulisi kalbuku
demi tak terhingga cerita
tentang hidup
di sini
dan kelak di sana suatu ketika

Di depan tungku,
lebaran tinggal sepenggal meninggalkan
rindang ramadhan
seperti bertahun lalu setiap waktu ini menunggu
aku bercengkerama
mengunyah untaian tiga puluh
menyeduh menu terakhir pada senja rahmat-Mu
aku bersimpuh di pelukmu
: Le, lumuri hidupmu sewangi bismilah
lalu genapi usiamu bersama alhamdulillah !


Sungai Sahut, Desember 2001


Di Sinilah Kau Mesti Pulang, Ko !
bagi: koko bae


tiba-tiba langit merah darah
njelma hitam muram
dalam elegi mendung berguman lirih
menyayat abadi
kau tinggalkan kami jauh
sebelum belaimu mengeratkan prasasti

pergilah,
semua catatan telah kau tamatkan
serupa nyiur tegar memagari hempasan badai
ketika episodmu usai
terkulai tengadah kembali
menyatu dalam berkah
darimana kau datang
dan di sinilah kau mesti pulang

bukalah segala pintupintu
yang pernah dijanjikan kepadamu lalu
kilatkan seserpih senyum
serupa pecinta lelah mengembara
damailah
sebenar-benar damai
menyatu dalam tenang
darimana kau datang
dan di sinilah kau mesti pulang, Ko !


Jambi, Februari 2002




Selengkapnya...

29 Januari 2009

Sajak - Sajak Religi Jen Kelana


Ada masanya kita tersadar dari kealfaan. Dan di saat seperti itu kita mestinya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, memberikan jiwa raga kita sepenuh hati. Kita tak bisa berpaling dari segala karunianya, meski kita juga sering diberi sebentuk nestapa. Namun yakinkan diri kita bahwa itu adalah suatu tanda kasih sayang-Nya jua, hingga kita harus berfikir untuk menyadari kesalahan kita. Inilah sebagian sajak-sajak itu.....


Nukilan Kabar dari Arasy

Dosa,
seperti putih tergores garisgaris hitam perpendaran
meninggalkan cerca menganga melebar jurang
jauh terlalu jauh hingga jatuh menelanjangi
kamarkamar naluri mengganti setumpuk permadani
bersama serapah. Atheis.

Hukuman,
masihkah berarti tanya bergulir manganulir anasir
terpetik dari gumpalan dosa yang mengebiri
satu janji yang di nukilkan dari Arasy. Hingga
palu cambuk api mencukur lembar nyawa menukar
dengan bilurbilur kusam. Azab.

Siksa,
adalah akhir dari sebuah lukisan karma. Tidak !
sendiri memetakan skenario mengunyah kemuskilan
terbantah angkuh kabarkabar yang terdefinisi jelas
dari samawi terbukti berelevansi kini
tapi,
jejak manis adalah neraka berkiblat terlupa
meski hilang segala punya mengakali benak
tetaplah berkoar mendepak jijik akan dengus Ilahi. Mati.

Sakit,
terbuang ruang pengampunan melayari pendakian keinginan
takkan terdengar lagi penawaran. Sekali cuma sekali
maka menangislah. Tangis.

Derita,
sementara di sini nyawa hanya melawat
ternyata luka yang sengaja di petakan pada
lenguhlenguh setapak jalan lurus diperdaya
berliku. Maka menuailah. Tuai.

Menyimaklah !

Sungai Sahut, 2001


DIBATAS KEBIMBANGAN


Kelekatu menyeruak sisasisa waktu
membisiki rerimbunan ilalang mengering
menapak berkeringat membangun gundukan
sedikit demi sedikit
semangat baja mengubur kelelahan
diantara basah tanah merah membongkah
hingga kering diketika malam kelam

Aku menangis,
semangat membara kelekatu mengusiku
giris. Pada usia tua berselimut gelisah
masih membiarkan raga berlumuran jelaga
pekat
ingin kuurai puing reruntuhan di senjaku
agar tabir kekusutan menjela tersebar
mengabarkan untaian janji-Nya


Pada suci bulan-Mu
aku menggerogoti nafas busuk di jiwaku
ketika lalu memenjarakan keikhlasan
demi bakti
demi pasrahku
demi sebentuk pengabdian. Bersama kekasih-Mu
aku mengajari mata bathin berlumpurku
dengan dzikir yang mengalir abadi. Menyuarakan
kelelahan-kenaifan-yang terbuang berabad lalu
pada mukjizat kalam-Mu yang bergema
pada ketika malam Ramadhan-Mu
aku menyentuh haru diridho-Mu


IMAJI Bangko, 28 Oktober 2001


DI BAWAH KUBAH


Merenungi sujud yang tersisa
semakin menggumpal
pekat di dada tanpa memuja asma-Mu
beku. Serpih niat menghamba
tinggal setitik darah ruang bathin
terisi sekelumit pujapuji
setetes

Masih ada kerdip lentera menaungi
menerangi segumpal kenaifan teragungkan
hanya senyap
lalu lenyap mengerjap menguap
kandas segala bakti menghakimi diri
menelan beban perjanjian takdir
atas kelahiran

Diantara tarawih
mengelupas debu bertabur Lumpur
sedikit. Kumandang kalam mencerca
belenggu kedzaliman
sedimen nista meraung membubung
menanggung murung kepasrahan
salah yang menambah gelisah
mengikis pergulatan sanubari
pupuslah kehendak memapar rona gairah fana
terlukis seulas kerendahan
pada rindang kubah-Mu aku mengadu
menuang keikhlasan
bersama suci yang melingkari hati


Campus, 03 November 2001

Selengkapnya...

Kembali lagi ke atas