13 April 2012

Antologi Puisi Imaji untuk FMPDK Ke-12

Kepada
Yth. Teman-teman Penyair
Di Tempat.

Dalam rangka pelaksanaan FESTIVAL MASYARAKAT PEDULI DANAU KERINCI XII tahun 2012, kami Sanggar Sastra IMAJI bekerja sama dengan Kantor DISPORAPARBUD Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi, berniat menerbitkan kumpulan puisi bertemakan pariwisata Kabupaten Kerinci yang merupakan karya para penyair dari berbagai daerah di Indonesia.

Kita harapkan buku kumpulan puisi ini mampu memotret obyek-obyek wisata, renungan-renungan kepariwisataan, serta gagasan-gagasan brilian seputar pengembangan kepariwisataan khususnya di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi.
Selengkapnya...

23 Februari 2012

Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya

Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya (Numera) di Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, yang akan berlangsung pada 16-18 Maret 2012 murni kegiatan yang mengusung sastra dan budaya. Tidak ada unsur kepentingan lain di dalamnya, apalagi politik. Acara ini bersifat silaturahim sesama sastrawan dan terkhusus penulis-penulis muda yang diharapkan menjadi penerus tongkat estafet bangsa, mewarisi nilai-nilai budaya Melayu yang menjadi akar kebudayaan Indonesia, dan negeri-negeri serumpun Melayu lainnya. Selanjutnya klik di sini.
Selengkapnya...

21 September 2011

Sajak-Sajak Jen kelana dari Facebook

Melodi Gerimis

Malam gerimis
seperti mengurai melodi
ritmis.....
aku terjebak dalam debat kusir
antara sahabat yang mensitir
dari Shakespeare hingga Lenin
lalu bermuara pada
aroma sangit daging kambing
dan kami berpesta

Padang, 21 September 2011

Selengkapnya...

25 Maret 2011

Sajak-sajak Jen Kelana : Rindu


SESAL

Bara masih mengepul
debu dosa di altar pesakitan
beterbangan berupa sayap-sayap
Jibril menabur takdir

           2002


RINDU MENGERUCUT

Pada tikungan-tikungan jalan
sudah kutabur lelaku
antara cinta basa-basi dan nurani
yang tercatat di selokan-selokan
lalu bersitatap serupa marka jalan itu
diam tanpa makna
Selengkapnya...

Melahirkan Ide

Source : http://kamuntiang.blogspot.com
Menjelajahi pikiran yang lama tidak difungsikan, rasanya merupakan suatu pekerjaan yang muskhil. Namun tidak salahnya juga jika kita sedikit berusaha membuka cakrawala berpikirnya. Barangkali saja ada manfaatnya, untuk kita atau untuk orang lain. Dalam kurun waktu "menyepi" itu terkadang apa yang kita lakukan mengalir apa adanya. Justru di saat itu, segala ide yang sudah ada dalam pikiran tidak mudah untuk dimanifestasikan. Namun perlu waktu untuk mengendapkannya. Bisa, langsung dituangkan dalam berbagai bentuk tulisan. Namun tulisan-tulisan itu belum mempunyai "greget" apalagi nilai kesastraan.
Selengkapnya...

17 Desember 2010

Cerpen Jen Kelana : SUATU WAKTU

Jerit kesakitan tak sempat melangit. Tersangkut pada serupa dinding pekat, gelap dan hitam di keempat sisinya. Atap datar juga hitam. Hanya bisa mendengar sendiri. Di luar ? Tidak berbeda. Tidak ada siang dan malam. Di manakah ? Entahlah ! Hembusan anginpun tidak ada. Air ? Apalagi ! Tapi ? Pertanyaan lain tiba- tiba terangkai dalam kesepian yang menggigit ini. Lagi-lagi seperti jeirtan kesakitan, pertanyaan-pertanyaan itu tersangkut pada serupa dinding pekat di keempat sisinya. Di manakah ? Entahlah !

Lengkingan itu memasuki gendang telingaku. Makin keras, makin menjadi lalu sekejap lenyap. Sunyi senyap. Kemudian berulang lagi, berulang lag. Begitu kejadiannya. Setiap waktu dan tidak pernah berhenti. Entah sudah berapa lama hal itu berlangsung. Semuanya absurd. Tapi tidak bagiku. Fenomena ini adalah keseharianku. Aku sudah terbiasa mendengar dan menyaksikan serentetan peristiwa ganjil yang mendirikan bulu kuduk itu. Aku justeru tersenyum menghadapi semuanya….

Selengkapnya...

21 Juni 2010

Celoteh : Sajak "Sunyi" Uda Rizal


Oleh : Jen Kelana

Membaca, dalam arti menyimak sajak Uda Rizal lalu mengapresiasikannya dalam sebuah catatan kecil mestinya tidak begitu sulit. Namun bagi saya, tugas ini sungguh tidak mudah. Makanya saya terus berdalih dengan berbagai macam alasan yang seolah-olah masuk akal, ketika beberapa mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Bangko mendesak saya agar memberi sekedar “celoteh” terhadap sajak Uda Rizal berjudul awal : Sunyi. Coba kita simak sajak "Sunyi" berikut :

S U N Y I

Uda Rizal

Senja kali ini angin laut berhembus sungsang
tersirat kabarkan rindu diantara kilau gelombang
kabarmu memekik camar
terbang riuh rendah melewati batas waktu
hantarkan rindu yang tertinggal
seumpama aku tak pernah kembali
toloh kirimkan sunyi untukku
seperti kelana
biarkan hilang bersama waktu
sunyi kau dan aku
disitu kita bisa syahdu berjumpa

Kesulitan pertama yang membentur dinding kepala saya, justru karena kedekatan secara personal saya dengan Uda Rizal. Meski secara fisik berada dalam lingkup yang sama, namun secara referensi literer saya tidak bisa menyelami secara utuh bahan bacaan yang Uda Rizal lahap dalam kesehariannya. Dan di sinilah sulitnya: melepaskan diri dari belenggu subyektifitas dan ego komunitas (baca : perbincangan). Meski demikian, saya berusaha agar obyektifitas murni yang muncul.

Kesulitan lainnya adalah ambiguitas keinginan saya, setidaknya ada dua hal yang menyedot syaraf kepala saya, kiprah Uda Rizal yang tidak pernah terdengar dalam publikasi media atau karyanya yang memang mempunyai bobot sendiri. Keduanya seolah berpacu di lintasan pemikiran saya, saling dahulu mendahului. Keduanya ingin saya tulis, maka yang muncul adalah tulisan warna-warni.

Sifat multiinterpretasi karya sastra memungkinkan pembaca bebas memberi tanggapan terhadap sebuah karya sastra. Seorang pembaca (penikmat) akan menanggapi dan menginterpretasi sebuah karya sastra berdasar atas pengalaman dan pemahaman yang dimilikinya. Teeuw (1988) mengungkapkan, setiap pembaca mempunyai horison harapan yang tercipta karena pembacaannya yang lebih dahulu dan pengalamannya selaku manusia budaya.

Seorang pembaca, secara otomatis dalam proses pembacaannya, akan memberikan reaksi terhadap bahan bacaannya. Dalam proses tersebut, pembaca akan mengenali, mengamati, dan akhirnya memahami karya yang dibacanya. Pada pembaca tertentu, proses tersebut tidak berhenti pada pemahaman, tetapi berlanjut pada tahap bereaksi dan berkreasi berdasarkan karya yang telah dibacanya tersebut. Menurut Aminuddin (2000), membaca karya sastra) adalah kegiatan yang cukup kompleks karena melibatkan beberapa aspek, baik fisik, mental, bekal pengalaman dan pengetahuan, dan aktivitas berpikir. Menurutnya, membaca adalah proses untuk mendapatkan tujuan tertentu dengan beberapa tahapan, yaitu persepsi (pengamatan), rekognisi (pemahaman arti), komprehensi pemahaman makna), interpretasi (pendalaman pemahaman), evaluasi (pemilihan), dan kreasi atau utilisasi (pengolahan).

Seorang pembaca yang kreatif akan bereaksi dan merespon karya yang telah dibacanya, memilih apa yang telah diperolehnya dalam proses pembacaan dan kemudian mengolahnya untuk mendapatkan kreasi baru atau tujuan tertentu. Proses inilah yang kemudian menghasilkan karya baru yang berasal dari karya sebelumnya. Hal ini biasa dikenal dengan hubungan intertekstual.

Demikian halnya dengan saya, interpretasi terhadap sajak “Sunyi” menjadi beragam dan hal tersebut masing-masing memiliki muaranya. Untuk sajak “Sunyi” hal pertama yang saya tangkap begitu mulai membacanya adalah sebuah kegamangan. Hal ini bisa saya lihat dengan keraguan Uda dalam memberikan judul terhadap puisi tersebut, antara “Sunyi” dan “Harapku Padamu” (judul yang diberikan kemudian). Secara gamblang kita memang langsung merasakan nuansa sepi, sendiri dan keinginan yang luar biasa tentang sebuah perjumpaaan. Pemilihan kata tampak begitu cermat, semua kata menganalogikan kesenyapan yang membawa pada suasana purbawi. Meski terkadang ada kesan “meremaja”, saya ingat di sebuah kolom khusus untuk siswa-siswa sekolah menengah pada majalah sastra “Horison” sajak-sajaknya bernuansa sama dan cara mengungkapan mereka hampir sama dengan Uda Rizal. Yang membedakan adalah gaya Uda Rizal dalam mengungkapkan kesunyian begitu lancar, runut dan mengalir. Seakan-akan kita disuguhi oleh lanskape alam dibalut dengan selaksa rasa syahdu yang menyiratkan rindu yang amat sangat.

Meski bukan merupakan suatu kebaruan, paling tidak hal ini bisa merupakan motivasi tersendiri di kalangan penikmat karya sastra dan juga penggiat sastra khususnya puisi di STKIP YPM Bangko. Rasanya terlalu sempit waktu saya dalam interpretasi sajak “Sunyi” Uda Rizal sehingga hanya dari hal yang kecil yang sempat mencuat. Namun setidaknya saya sudah berusaha lepas dari subyektifitas dan mencoba obyektif dan realisitis. Mudaha-mudahan saya bisa menelaah lebih jauh sajak tersebut. Semoga !

Selengkapnya...

Kembali lagi ke atas