27 Januari 2010

Sajak Jen Kelana : Sajak Miris

Bentuk itu Bernama Seperti Kebenaran

(1)

Ketika tanah ini menjadi sarang drakula
maka keheningan malam buram
yang melahirkan sajak akan pupus juga
bau amis darah menua berdifusi
bersama angin yang enggan berhembus
entah dari mana. Tanah ini mati
tidak ada dengus nafas memburu seperti
ketika tanah ini masih bernama bumi
ketika huma masih membiaskan bianglala pelangi
merah, kuning, hijau memprisma
memetakan sketsa langit. Biru
tidak setitikpun hitam
hitam hanyalah noktah
yang mengeratkan kelam, buram kekejaman
dan segerumbul kenistaan


(2)

Ketika tanah ini mulai akrab dengan anyir darah
yang tertumpah dati pantat, telinga dan mulutmulut
yang hanya bisa berkata, “Mampuslah !”
Dan jika mantra itu mengalir menusuk merjan
Maka tercecerlah ke segenap penjurupenjuru
tempat sajaksajak mati sempat terlahir
hidup selintas
lalu habislah riwayat yang belum direncanakan
belum sempat dianggarkan berikut perincian alokasinya
harus terkulai dan berakhir tragis
sebelum puas mengakrabi udara yang terkontaminasi
kita harus hijrah
dari tempat yang bernama mati

(3)

Di atas reranting perdu
entah tetumbuhan apa
di bumiku tak pernah kutemukan
dari duludulu bahkan
jangan menjadikan terjebak oleh kabaruan
kesenangan yang bersimbiosis
dengan kejengkelan seperti di reranting itu
bertenggerlah drakula yang baru saja memangsa
seekor perawan tamat di malam laknat
lihatlah, betapa rakus menjilati sisa darah
lidah bercabang liar menguliti sekujur muka
bermainmain
sementara sekujur tubuh tergolek mati
bangkai perawan itu seakan berguman
hmm.....hmm...


Bangko 2002

Sajak ini pernah dimuat di Harian Suara Karya Jakarta pada edisi Kamis, 14 Maret 2002



Selengkapnya...

28 Desember 2009

SUATU WAKTU ITU

Suatu waktu.

Jerit kesakitan tak sempat melangit. Tersangkut pada serupa dinding pekat, gelap dan hitam di keempat sisinya. Atap datar juga hitam. Hanya bisa mendengar sendiri. Di luar ? Tidak berbeda. Tidak ada siang dan malam. Di manakah ? Entahlah ! Hembusan anginpun tidak ada. Air ? Apalagi ! Tapi ? Pertanyaan lain tiba- tiba terangkai dalam kesepian yang menggigit ini. Lagi-lagi seperti jeirtan kesakitan, pertanyaan-pertanyaan itu tersangkut pada serupa dinding pekat di keempat sisinya. Di manakah ? Entahlah !

Lengkingan itu memasuki gendang telingaku. Makin keras, makin menjadi lalu sekejap lenyap. Sunyi senyap. Kemudian berulang lagi, berulang lag. Begitu kejadiannya. Setiap waktu dan tidak pernah berhenti. Entah sudah berapa lama hal itu berlangsung. Semuanya absurd. Tapi tidak bagiku. Fenomena ini adalah keseharianku. Aku sudah terbiasa mendengar dan menyaksikan serentetan peristiwa ganjil yang mendirikan bulu kuduk itu. Aku justeru tersenyum menghadapi semuanya....

Aku terbaring di atas tempat tidur spesial yang tidak dimiliki siapa saja. Tidak seorang raja atau seorang presiden sekalipun. Apalagi sebangsa kere-kere yang berserakan di sana. Di atas bumi yang sudah menua dan dilingkari uban itu, yang setiap hari tiap waktu belajar menjadi orang-orang yang paling sabar. Namun bagiku kesabaran itulah yang mengantarkan aku ke sini. Di tempat ini.

Dengan permadani sutra, aku menikmati pelayanan layaknya hotel berbintang. Bukan, kenyamanan ini tidak bisa disamakan dengan apa dan di mana. Dan ketika kusandarkan kepalaku, ada perasaan nyaman sebenar-benar nyaman. Bahagia tak terhingga. Aku sedikitpun tidak merasa terganggu oleh jeritan-jeritan melengking yang setiap saat sanggup memekakkan telinga itu. Biasa-biasa saja. Tidak ada yang perlu kurisaukan.

“Ctar, ctar, ctar !” tiba-tiba suara-suara ganjil itu lagi-lagi terdengar. Diirngi lengkingan yang menyayat, cambuk api itu terus saja melecuti tubuh yang tinggal kerangka menganga. Sedikit daging yang masih menghiasi muka, mengisyaratkan roma ketakutan dan kengerian. Setiap kali cambuk api menyentuh tubuh itu, setiap kali pula jeritan mengguntur berkepanjangan. Belum lagi hilang lengkingannya, campuk api itu sudah menghampiri lagi. Begutu berulang-ulang sehingga sekejap senyap. Tubuh tinggak kerangka itu menggeliat menahan nyeri, pedih, perih. Dengan susah payah dia berusaha bergerak. Tertatih. Berhasil juga dia berbaring, lalu matanya menandangku lekat-lekat.

“Kenapa kau tidak sepertiku ?” tanyanya padaku. Aku tersenyum dan berusaha menghampirinya. Tidak ada perasaan kasihan setitik pun pada diriku menyaksikan keadaannya. Belum lagi bisa mendekat langkahku tersendat, terhalang oleh sekat transparan yang membatasi aku dengannya. Aku hanya bisa memandang dan mendengar suaranya. Setiap waktu aku bisa menyaksikan penyiksaan itu. Dan setiap waktu pula dia bisa melihatku mendapat perlakuan istimewa.

“Aku pernah mendengar orang-orang berkata kepadaku tentang kehidupan di sini. Dan aku percaya itu.” kataku. Dia masih belum mengerti. Dari kerlingan matanya aku tahu dia belum bisa memahami jawabanku.

“Apa yang mereka katakan padamu ?”

Aku ingin menjawab pertanyaannya itu, tetapi seperti ada yang menahan agar aku tidak menjawabnya. Aku hanya mampun memandangnya. Dia menghiba dan memohon kepadaku untuk menjelaskannya. Aku tidak mampu.

“Ctar, ctar, ctar !” Cambuk api itu memberi jawaban seketika, gemuruh lengkingan terdengar di telingaku seperti langgam sebuah elegi. Pilu ! Aku tidak mampu menolong tubuh yang tinggal kerangka itu.

***


Sebuah rumah.

Hawa dingin mengiringi jatuhnya malam. Gemerisik daun-daun melebur bersama aroma seperti bebauan dupa. Kadang-kadang menyeruak menusuk hidung dan terkadang tidak tercium sama sekali. Di luar udara dingin luar biasa. Namun kegerahan menyapa orang-orang yang sedang khusuk membaca surta Yasin. Tahlilan. Di sebuah rumah. Kesan sedih terlukis melatari bergulirnya malam. Suara-suara itu seperti hilang dan timbul dibawa angin yang menerobos pintu-pintu rumah. Jauh melayari rumah-rumah di sekitarnya. Tersangkut pada ventilasi-ventilasi jendela, tertinggal din tepian-tepian sungai yang berubah fungsi menjadi tempat pembuangan limbah. Segalanya seperti kehilangan sesuatu yang paling berharga. Mereka bersedih. Mereka merasakan keresahan yang berkepanjangan atas kehilangan ini. Pekat di langit barat, timur, utara dan selatan menambah kesedihan. Pilu. Semua meluruk, bergabung dengan saudara merekayang dicoba kesabarannya. Jadilah ‘paduan suara’ mengumandangkan kalam-Nya.

Di tengah ruangan tergolek sesosok tubuh yang terbungkus kain putih. Kafan. Dikelilingi orang-orang yang mengasihinya. Istri tercinta, anak-anaknya, kerabat-kerabatnya dan orang-orang yang begitu menghormati dan mengaguminya. Mereka kehilangan atas lepergiannya.

Sembab masih terlihat jelas di wajah-wajah mereka. Sisa air mata menggenangi lekuk mata mereka. Adalah kepedihan yang maha dahsyat. Alampun turut berduka. Malam menjadi saksi atas semua ini. Perlahan rerintik gerimis turut menangis giris. Iramanya teratur dan menghiba. Di dalam deraian rinai itu terdengar suara-suara yang seakan-akan ingin menyela gerimis. Seperti ingin memberi kabar kepada semua yang ada di rumah itu.

“Tidak usahlah kalian bersedih. Kepergianku ini membawa berkah. Untuk apa air mata itu kalian tumpahkan. Simpanlah, curahkan nanti ketika dunia diambang kematian.”

Seseorang yang duduk di pojok ruangan memandang orang yang hadir dalam tahlilan ini. Semua khusyuk dengan bacaannya masing-masing. Orang iu berusaha berkonsentrasi lagi dan mengikuti irama bacaan mereka. Namun suara-suara itu kembali mengganggu usahanya menghalau kegugupan yang tiba-tiba menyergapnya. Dipandanginya lagi orang-orang di sekelilingnya. Tidak berubah. Malah semakin sendu saja. Bahkan terlihat air mata menggenangi kedua pipi perempuan yang menjadi istri si mati. Heran. Sama seperti perasaannya.

“Akupun hampir-hampir tak mampu membendung bah di mataku, “ gumamnya. Apakah perempuan itu mendengar juga suara-suara itu ? Entahlah ! Barangkali saja. Beberapa kali memang terlihat perempuan itu memandang orang-orang yang hadir di situ. Walaupun tidak begitu jelas, perempuan itu hanya mengerling. Suatu ketika matanya bersirobok dengan pandangan orang yang duduk di pojok itu. Air matanya semakin mengalir membsahai pipinya. Dan menunduk lagi berusaha menahan kegelisahan hatinya.

“Terima kasih kalian maun mendoakan aku. Aku bahagia sekali mendapatkan kenyataan ini. Tapi janganla kalian buang airmata, hanya akan menjadi aral bagiku. Pesanku aku pernah mendengar orang-orang berkata padaku tentang kehidupan di sini. Dan aku percaya itu. Aku mau kalian seperti aku,” kembali terngiang suara-suara itu. Perempuan tadi menandang ke arah pojok ruangan. Seakan ada yang ingin dikatakannya kepada orang yang duduk di pojok itu.

Malam semakin larut. Hujan tinggal menyisakan dingin. Sementara orang-orang yang tadi tahlilan satu demi satu meninggalkan rumah itu. Cahaya lampu petromaks sedikit redup mengiringi berlalunya mereka. Tinggal orang yang duduk di pojok, anak-anak, istri si mati dan kerabatnya yang masih tinggal. Kemudian mereka larut dalam bayangannya sendiri-sendiri, hingga tak sadar satu persatu terlelap dalam kelelahan.

***


Sebuah rumah.

Lalu lintas semakin pada bila malam minggu begini. Apalagi jalur-jalur utama kota megapolitan ini. Bahkan segerombolan kendaraan roda dua seperti ingin mengangkangi jalanan. Raungan mesinnya singgah di sebuah rumah mega di pinggiran jalan protokol itu. Pagar tembok tinggi dengan halaman yang maha luas. Terlihat banyak mobil mewah parkir di situ. Kelihatannya ramai sekali. Suara riuh rendah menyeret langkahku melongok ke dalam rumah itu. Astaga ! Sesosok tubuh dibungkus kain putih tergolek pasrah dikelilingi orang-orang yang rata-rata berperut gendut. Memakai jas hitam lengkap dan mengesankan turut berduka cita. Namun anehnya di antara mereka ada yang bermain judi dan minum-minum. Botol-botol berserakan di lantai bau alkohol menyengat penciumanku. Ada bagian kafan si mati yang tersiram minuman itu. Sambil tertawa-tawa menertawai kematian ini. Aku tegak diambang pintu memandang mereka. Kulihat di sudut ruangan, anak-anak, istri dan kerabat si mati bercengkerama dengan perempuan-perempuan lain. Aku tertegun. Jahanam. Istri macam apa ini ? Dalam kebingunanku dan ditingkahi suara gaduh, lamat-lamat kudengar suara-suara ganjil. Datang entah dari mana.

“Kenapa kalian seperti aku ?” kulihat perempuan yang menjadi istri si mati memandangku nanar. Ada keterkejutan dan paras mengisyaratkan ketakutan luar biasa. Orang-orang semakin asyik dengan kegiatannya. Tertawa-tawa hingga airmata mereka tertumpah. Perempuan itu berusaha berjalan ke arahhku. Susah payah dia melintasi orang-orang itu, dan ketika beberapa jarak lagi sampai ke tempatku berdiri, tanpa pengetahuan siapa saja aku beranjak pergi. Pergi melintasi pagar, melayang lalu melebur bersama wan putih di sela cahaya bulan separuh yang meredup. Dari jauh masih sempat kudengar teriakan histeris dari orang-orang yang berada di ruangan itu. Lamat-lamat kudengar suara cambuk api mengiringi teriakkan mereka.

“Ctar, ctar, ctar !” perempuan itu terperangah melihat mayat suaminya tiba-tiba bergerak-gerak. Orang-orang yang sudah setengah mabuk itu, tidak menghiraukan perubahan yang terjadi. Mereka baru sadar ketika dikejutkan teriakkan melangit.
Tauuuuuuuuubbaaaat!

***

Bangko, 17 Shafar 1423 H

Cerpen Jen Kelana : “Suatu Waktu Itu” pernah dimuat di Harian Umum Pelita Jakarta pada Kamis 30 Mei 2002 / 17 Rabiul Awal 1423 H.


Selengkapnya...

25 Oktober 2009

WS. Rendra : Sang Burung Merak telah Berpulang

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah seorang yang fenomenal. Pada tanggal 6 Agustus 2009 dalam usia 73 tahun WS. Rendra meninggalkan kita dan kembali keharibaan yang Maha Kuasa. Mendung menggayut di bumi ini, seakan turut larut dalam duka. Wahyu Sulaeman Rendra (lahir sebagai Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – meninggal di Jakarta, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah ia sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.

Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping......sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya.

Pendidikan

* TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.
* SD s/d SMU Katolik, St. Yosef, Solo - Tamat pada tahun 1955.
* Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta - Tidak tamat.
* mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 - 1967).

Rendra sebagai sastrawan

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

"Kaki Palsu" adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.

Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

Bengkel Teater

Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

Penelitian tentang karya Rendra

Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Penghargaan

* Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954)
* Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
* Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
* Hadiah Akademi Jakarta (1975)
* Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
* Penghargaan Adam Malik (1989)
* The S.E.A. Write Award (1996)
* Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Burung Merak

Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi. Setelah menjadi muslim namanya menjadi Wahyu Sulaeman Rendra.

Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.

Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati

Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

Beberapa karya

Drama :
* Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
* Bip Bop Rambaterata (Teater Mini Kata)
* SEKDA (1977)
* Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 2 kali)
* Mastodon dan Burung Kondor (1972)
* Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)-dimainkan dua
kali
* Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)
* Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul "Oedipus Rex")
* Lisistrata (terjemahan)
* Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles,
* Antigone (terjemahan dari karya Sophokles,
* Kasidah Barzanji (dimainkan dua kali)
* Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan dari karya Jean Giraudoux asli
dalam bahasa Prancis: "La Guerre de Troie n'aura pas lieu")
* Panembahan Reso (1986)
* Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali)

Sajak/Puisi

* Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
* Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
* Blues untuk Bonnie
* Empat Kumpulan Sajak
* Jangan Takut Ibu
* Mencari Bapak
* Nyanyian Angsa
* Pamphleten van een Dichter
* Perjuangan Suku Naga
* Pesan Pencopet kepada Pacarnya
* Potret Pembangunan Dalam Puisi
* Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
* Rick dari Corona
* Rumpun Alang-alang
* Sajak Potret Keluarga
* Sajak Rajawali
* Sajak Seonggok Jagung
* Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
* State of Emergency
* Surat Cinta1

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/W._S._Rendra


Selengkapnya...

30 September 2009

Hikmah Lebaran 1430 H

Seminggu menjelang lebaran 1430 H yang jatuh pada Hari Minggu Tanggal 20 September 2009 lalu, aku terkapar tak berdaya. Sekujur tubuh menggigil, sendi-sendi tidak bisa digerakan, makan tidak enak tidur apalagi jelas tidak nyenyak. Disertai dengan cuaca yang tidak menentu, rasanya sempit pemandangan di sekitar. Lha wong namanya lagi sakit, ya seperti itu, gerutuku. Penasaran dengan apa yang menimpaku, sambil merasakan sakit kupaksa berfikir. Tak memerlukan waktu lama ketahuan penyebabnya: nyamuk kecil sialan itu yang sama menyebabkan demam berdarah yang membuatku sengsara begini. Lebih ekstrem lagi nama penyakit yang dibawanya: CHIKUNGUNYA!!!

Hingga hari ini, lebaran sudah berlalu sekian hari tapi rasa ngilu-ngilu seerti rematik yang disebabkan penyakit chikungunya itu belum juga hilang dari tubuh ini....

terbayang kita kemaren melewati lebaran dengan keluarga, nyaris tanpa merasakan bagaimana nikmatnya "panganan" lebaran. Hampir saja aku tak menikmati rasanya silaturahmi pada kerabat, teman, dan tetangga sekitarnya. Padahal kebiasaan salam-salaman ini sudah menjadi tradisi pada masyarakat kami. Walah, lagi-lagi gara-gara chikungunya itu.

Selengkapnya...

16 September 2009

Serpihan Ramadhan

Terasa perjalanan kita telah begitu jauh hingga kembali sampai pada bulan agung ini. Betapa tidak, seabrek pertanyaan bersarang dibenak ini. Apakah hikmah yang kita dapat dari aktivitas kita selama ini ? Adakah kita sudah memberi manfaat bagi orang lain ? Ataukah kita masih saja membebani orang-orang, atau bahkan terhadap orang-orang yang kita cintai? Mungkin .........


Kalut Membisik

Baru saja lelah mengepak
selentur helaan matahari pagi ini
membisik dalam kalut
hati..
masihkah merah memberi warna
dalam bijak dalam dera
lalu mengapa
jingga selalu saja setia menggeluti
sementara Ramadhan tinggal sebentar lagi

Semerbak wangi surgawi
terasa semakin jauh dan terlalu jauh
kilau dosa yang seperti lentera
tak juga peduli
usang sudah hari-hari
menggeluti jentera tak bertepi
lalu kita juga masih sendiri


Bangko, September 2009

Selengkapnya...

26 Juni 2009

Sastra Jambi: Sebuah Celoteh

Sastra makin lama menjadi sebuah komoditi keseharian. Hampir pada setiap media massa terdapat kolom atau rubrik yang mengangkat persoalan sastra dan seni budaya pada umumnya. Dan hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang baru baik dalam perbincangan awam maupun pada tataran pelaku, penikmat dan pemerhati sastra itu sendiri. Masih terbatasnya tingkat apresiasi terhadap sastra sangat dimungkinkan barangkali karena minimnya pengetahuan dan kemauan untuk menggali apa yang tercantum dalam ranah sastra itu. Namun apa sesungguhnya makna dan implikasi sastra tersebut dalam sebuah perilaku manusia berbudaya (human culture) dan terbentuknya komunitas baru (new comunity), belum terbayangkan bahkan belum terekonstruksi dengan baik. Dan jika dilanjutkan dalam arah pertanyaan lanjutan: Mampukah sastra mengarah pada sebuah imajinasi atau angan-angan terbentuknya suatu tatanan kehidupan berbudaya baru dalam kehidupan manusia ? Implikasinya.....

sastra kemudian menjadi sebuah kata yang konsumtif. Apalagi kalau diimbangi dengan ketidakmengertian implikasi dan komplikasinya.

Mengingat jagad kemanusiaan ditandai adanya pluralisme budaya yang lintas batas (trans culture), maka sastra sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang lambat laun menjadi sesuatu yang harus dilekatkan pada image manusia berbudaya. Dalam gerak lintas sastra ini terjadi berbagai pertemuan antar komponen lain seperti bahasa sekaligus mewujudkan proses saling mempengaruhi.

Dalam konteks inilah perbicangan atas wavcana kesastraan menjadi suatu hal yang harus dikedepankan. Bentuk perbicangan itu bisa berupa diskusi sastra, dialog sastra, workshop, lomba-lomba seputar sastra, kongres sastra, temu sastrawan dan lain-lainnya. Terlepas dari segala kepentingan tentang wacana satra, sastra Jambi sangatlah perlu diakomodasi secara lebih intens. Supaya sastra Jambi yang juga merupakan salah satu kantung sastra nasional tidak ditinggalkan oleh pemeran sastra di daerah ini. Barangkali kita tidak bisa berkata banyak tentang kesastraan Jambi bila suatu ketika berdialog dengan komunitas sastra dari daerah lain. Untuk itulah keikutsertaan komunitas sastra kita dalam Temu Sastrawan Indonesia (TSI) yang diselenggarakan di Kota Jambi.

Temu Sastrawan Indonesia dikonsepkan sebagai ajang untuk mellihat peta pertumbuhan kesusastraan yang belakangan sering dipersoalkan terutama menyangkut pencapaian-pencapaian estetika, gugatan terhadap aktualitas, persoalan tematik sampai pada wadah sosialisasinya, yang selama ini tergantung kepada eksistensi media massa ( koran ). Tentu saja berbagai macam gugatan atau harapan yang muncul seputar kondisi ini – betapapun minimnya – sangat layak untuk diperhatikan dan diakomodasi. Setidaknya dari pandangan- pandangan yang terakomodasi tersebut dapat menjawab berbagai polemik yang belakangan juga semakin tidak mempercayai eksistensi sastra yang tumbuh sebagai resiko adanya sastra koran. Beberapa kalangan berpendapat, pemiskinan pencapaian estetik yang melatarbelakangi penciptaan sastra dipicu oleh kedangkalan para penulisnya itu sendiri dalam mereduksi bacaan ataupun fenomena yang akan memperkaya wilayah proses kreatifnya.

Selengkapnya...

22 Juni 2009

Blogger Merangin : Meretas Kesombongan Si Penipu

Catatan Kopdar #1:

Mengawali tulisan ini ada baiknya aku kutip Wang Yang ming (Tokoh Pengajaran Tradisional China): "Tak ada satupun di dunia yang bisa dicapai tanpa kemauan keras. Penguasaan setiap keahlian berasal dari kemauan kuat.” Dari filosofis itu, barangkali kita bisa mereduksi pemikiran tentang bagaimana, dan seterusnya untuk apa kita berbuat! Tentunya komitmen awal ini yang menurut saya penting dalam membentuk sebuah komunitas blogger Merangin, dengan asumsi bahwa setiap blogger tentu mempunyai motivasi yang berbeda dalam dunia maya. Barangkali sebagian kita motivasi ngeblog pada awalnya sekedar sebagai ajang aktualisasi diri, barangkali diantara kita ada yang mempunyai ambisi begitu besar untuk mewujudkan suatu keinginan awal mereka mengenal dunia absurd ini. Dan seolah-olah terlalu tendensius, sehingga mengesampingkan kebersamaan yang ingin di bangun.


Sebagai modal awal dalam langkah mewujudkan hal itu, tentunya dibutuhkan semangat kekeluargaan dan saling berbagi. Saya sendiri menyambut positif atas terbentuknya komunitas ini, namun lagi-lagi tujuan kita berupa keinginan sharing ilmu diantara sesama blogger memang perlu dikedepankan. Memang dalam mengelola "kelompok" seperti ini tidak gampang, dibutuhkan orang-orang yang selain kompeten dia juga harus memahami aturan umum baik sebagai blogger di dunia absurd ini maupun sebagai sibiasa dalam keseharian. Penekanan ini saya pikir tidaklah klise belaka, alasannya jika semua komponen ini sinergis tentunya harapan yang ingin dicapai semaksimal mungkin dapat diwujudkan.


"Kita ini penipu!" menyitir Kang Sawa, penipu dalam tanda kutip tentunya. Jika pakai rasio kita dalam kehidupan dunia absurd ini, memang ada benarnya. Namun pada kenyataan banyak diantara kita yang masih mempunyai idealisme yang mengagumkan sampai hari ini. Tentang siapa contohnya, tidak perlu saya sampaikan di sini. Kita rasakan saja dalam menyelami dunia absurd ini bagaimana perbandingan persentase ilmu-ilmu yang kita dapat dengan kebohongan-kebohongan para blogger atau netter itu ternyata sangatlah besar. Di sisi lain, kita pinter yang berkat mereka. Intinya kita retas saja ego dan rasa sombong yang ada pada diri kita masing-masing sehingga tatar kebersamaan itu akan terasa kental dan manfaat dari terbentuknya komunitas ini akan terasakan benar.


Sekali lagi, kita teruskan apa yang sudah kita mulai. Majulah blogger Merangin dalam membawa angin segar Merangin ke dunia absurd, tunjukkan eksistensi kita kepada dunia! Salam dari WongSASTRA, Bravo!
Selengkapnya...

Kembali lagi ke atas