Selengkapnya...
26 Juni 2009
Sastra Jambi: Sebuah Celoteh
Selengkapnya...
Diposkan oleh Jen Kelana Pada 23:22 Link ke posting ini
22 Juni 2009
Blogger Merangin : Meretas Kesombongan Si Penipu
Catatan Kopdar #1:
Diposkan oleh Jen Kelana Pada 11:46 Link ke posting ini
16 Juni 2009
Tentang Blogger Merangin
Selengkapnya...
Diposkan oleh Jen Kelana Pada 10:26 Link ke posting ini
15 Juni 2009
Cerpen Jen Kelana : MIMIKRI (1)
Bersambung ……….
Selengkapnya...
Diposkan oleh Jen Kelana Pada 16:16 Link ke posting ini
12 Juni 2009
Monolog Butet
Selengkapnya...
Diposkan oleh Jen Kelana Pada 07:54 Link ke posting ini
18 Maret 2009
Sajak-sajak Jen Kelana : Pada Sesipa
Sajak-sajak dedikasi ini merupakan sebagian kesan yang kuperoleh atas apa, siapa dan bagaimana WongSASTRA saling berinteraksi. Mungkin saja ada kekaguman, mungkin saja ada kedengkian, barangkali saja ada rasa gundah yang berkepanjangan. Dan apapun dampaknya inilah mereka.............
GERANGAN SIAPAKAH
Gerangan siapakah engkau, wahai
berdiri mangu di jalan malam hitam
di mana terkubur cerita masa silam
yang mengkristalkan warnawarni hingga
memancar setitik menelan kegelapan
Gerangan siapakah engkau, duhai
berkata sendiri di setiap terhamburnya waktu
di mana nurani tidak lagi penuh janji
adakah malam menjadi dendam lalu menjeratmu
adakah sepi menjadi seteru lalu membiusmu
adakah impian menjadi hamba hingga
menidurkan jasad dan bathimu
Gerangan siapakah engkau,
yang gelisah menunggu kegaiban
yang resah melihat benar disamarkan
yang risau mendengar bisikan melenakan
Selalu saja,
bimbang menorehkan mual
hingga janji hanya tinggal puisi
tersangkut di langit tak bertepi
Campus, Januari 2002
Di Depan Tungku
: mbokku
Begitu,
tidak pernah lelah meghitung waktu
walau tertatih satusatu
mengeratkan kharisma di mataku
menulisi kalbuku
demi tak terhingga cerita
tentang hidup
di sini
dan kelak di sana suatu ketika
Di depan tungku,
lebaran tinggal sepenggal meninggalkan
rindang ramadhan
seperti bertahun lalu setiap waktu ini menunggu
aku bercengkerama
mengunyah untaian tiga puluh
menyeduh menu terakhir pada senja rahmat-Mu
aku bersimpuh di pelukmu
: Le, lumuri hidupmu sewangi bismilah
lalu genapi usiamu bersama alhamdulillah !
Sungai Sahut, Desember 2001
Di Sinilah Kau Mesti Pulang, Ko !
bagi: koko bae
tiba-tiba langit merah darah
njelma hitam muram
dalam elegi mendung berguman lirih
menyayat abadi
kau tinggalkan kami jauh
sebelum belaimu mengeratkan prasasti
pergilah,
semua catatan telah kau tamatkan
serupa nyiur tegar memagari hempasan badai
ketika episodmu usai
terkulai tengadah kembali
menyatu dalam berkah
darimana kau datang
dan di sinilah kau mesti pulang
bukalah segala pintupintu
yang pernah dijanjikan kepadamu lalu
kilatkan seserpih senyum
serupa pecinta lelah mengembara
damailah
sebenar-benar damai
menyatu dalam tenang
darimana kau datang
dan di sinilah kau mesti pulang, Ko !
Jambi, Februari 2002
Selengkapnya...
Diposkan oleh Jen Kelana Pada 20:56 Link ke posting ini
29 Januari 2009
Sajak - Sajak Religi Jen Kelana

Ada masanya kita tersadar dari kealfaan. Dan di saat seperti itu kita mestinya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, memberikan jiwa raga kita sepenuh hati. Kita tak bisa berpaling dari segala karunianya, meski kita juga sering diberi sebentuk nestapa. Namun yakinkan diri kita bahwa itu adalah suatu tanda kasih sayang-Nya jua, hingga kita harus berfikir untuk menyadari kesalahan kita. Inilah sebagian sajak-sajak itu.....
Nukilan Kabar dari Arasy
Dosa,
seperti putih tergores garisgaris hitam perpendaran
meninggalkan cerca menganga melebar jurang
jauh terlalu jauh hingga jatuh menelanjangi
kamarkamar naluri mengganti setumpuk permadani
bersama serapah. Atheis.
Hukuman,
masihkah berarti tanya bergulir manganulir anasir
terpetik dari gumpalan dosa yang mengebiri
satu janji yang di nukilkan dari Arasy. Hingga
palu cambuk api mencukur lembar nyawa menukar
dengan bilurbilur kusam. Azab.
Siksa,
adalah akhir dari sebuah lukisan karma. Tidak !
sendiri memetakan skenario mengunyah kemuskilan
terbantah angkuh kabarkabar yang terdefinisi jelas
dari samawi terbukti berelevansi kini
tapi,
jejak manis adalah neraka berkiblat terlupa
meski hilang segala punya mengakali benak
tetaplah berkoar mendepak jijik akan dengus Ilahi. Mati.
Sakit,
terbuang ruang pengampunan melayari pendakian keinginan
takkan terdengar lagi penawaran. Sekali cuma sekali
maka menangislah. Tangis.
Derita,
sementara di sini nyawa hanya melawat
ternyata luka yang sengaja di petakan pada
lenguhlenguh setapak jalan lurus diperdaya
berliku. Maka menuailah. Tuai.
Menyimaklah !
Sungai Sahut, 2001
DIBATAS KEBIMBANGAN
Kelekatu menyeruak sisasisa waktu
membisiki rerimbunan ilalang mengering
menapak berkeringat membangun gundukan
sedikit demi sedikit
semangat baja mengubur kelelahan
diantara basah tanah merah membongkah
hingga kering diketika malam kelam
Aku menangis,
semangat membara kelekatu mengusiku
giris. Pada usia tua berselimut gelisah
masih membiarkan raga berlumuran jelaga
pekat
ingin kuurai puing reruntuhan di senjaku
agar tabir kekusutan menjela tersebar
mengabarkan untaian janji-Nya
Pada suci bulan-Mu
aku menggerogoti nafas busuk di jiwaku
ketika lalu memenjarakan keikhlasan
demi bakti
demi pasrahku
demi sebentuk pengabdian. Bersama kekasih-Mu
aku mengajari mata bathin berlumpurku
dengan dzikir yang mengalir abadi. Menyuarakan
kelelahan-kenaifan-yang terbuang berabad lalu
pada mukjizat kalam-Mu yang bergema
pada ketika malam Ramadhan-Mu
aku menyentuh haru diridho-Mu
IMAJI Bangko, 28 Oktober 2001
DI BAWAH KUBAH
Merenungi sujud yang tersisa
semakin menggumpal
pekat di dada tanpa memuja asma-Mu
beku. Serpih niat menghamba
tinggal setitik darah ruang bathin
terisi sekelumit pujapuji
setetes
Masih ada kerdip lentera menaungi
menerangi segumpal kenaifan teragungkan
hanya senyap
lalu lenyap mengerjap menguap
kandas segala bakti menghakimi diri
menelan beban perjanjian takdir
atas kelahiran
Diantara tarawih
mengelupas debu bertabur Lumpur
sedikit. Kumandang kalam mencerca
belenggu kedzaliman
sedimen nista meraung membubung
menanggung murung kepasrahan
salah yang menambah gelisah
mengikis pergulatan sanubari
pupuslah kehendak memapar rona gairah fana
terlukis seulas kerendahan
pada rindang kubah-Mu aku mengadu
menuang keikhlasan
bersama suci yang melingkari hati
Campus, 03 November 2001
Selengkapnya...
Diposkan oleh Jen Kelana Pada 12:49 Link ke posting ini









