
Oleh : Jen Kelana
Membaca, dalam arti menyimak sajak Uda Rizal lalu mengapresiasikannya dalam sebuah catatan kecil mestinya tidak begitu sulit. Namun bagi saya, tugas ini sungguh tidak mudah. Makanya saya terus berdalih dengan berbagai macam alasan yang seolah-olah masuk akal, ketika beberapa mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Bangko mendesak saya agar memberi sekedar “celoteh” terhadap sajak Uda Rizal berjudul awal : Sunyi. Coba kita simak sajak "Sunyi" berikut :
S U N Y I
Uda Rizal
Senja kali ini angin laut berhembus sungsangtersirat kabarkan rindu diantara kilau gelombangkabarmu memekik camarterbang riuh rendah melewati batas waktuhantarkan rindu yang tertinggalseumpama aku tak pernah kembalitoloh kirimkan sunyi untukkuseperti kelanabiarkan hilang bersama waktusunyi kau dan akudisitu kita bisa syahdu berjumpaKesulitan pertama yang membentur dinding kepala saya, justru karena kedekatan secara personal saya dengan Uda Rizal. Meski secara fisik berada dalam lingkup yang sama, namun secara referensi literer saya tidak bisa menyelami secara utuh bahan bacaan yang Uda Rizal lahap dalam kesehariannya. Dan di sinilah sulitnya: melepaskan diri dari belenggu subyektifitas dan ego komunitas (baca : perbincangan). Meski demikian, saya berusaha agar obyektifitas murni yang muncul.
Kesulitan lainnya adalah ambiguitas keinginan saya, setidaknya ada dua hal yang menyedot syaraf kepala saya, kiprah Uda Rizal yang tidak pernah terdengar dalam publikasi media atau karyanya yang memang mempunyai bobot sendiri. Keduanya seolah berpacu di lintasan pemikiran saya, saling dahulu mendahului. Keduanya ingin saya tulis, maka yang muncul adalah tulisan warna-warni.
Sifat multiinterpretasi karya sastra memungkinkan pembaca bebas memberi tanggapan terhadap sebuah karya sastra. Seorang pembaca (penikmat) akan menanggapi dan menginterpretasi sebuah karya sastra berdasar atas pengalaman dan pemahaman yang dimilikinya. Teeuw (1988) mengungkapkan, setiap pembaca mempunyai horison harapan yang tercipta karena pembacaannya yang lebih dahulu dan pengalamannya selaku manusia budaya.
Seorang pembaca, secara otomatis dalam proses pembacaannya, akan memberikan reaksi terhadap bahan bacaannya. Dalam proses tersebut, pembaca akan mengenali, mengamati, dan akhirnya memahami karya yang dibacanya. Pada pembaca tertentu, proses tersebut tidak berhenti pada pemahaman, tetapi berlanjut pada tahap bereaksi dan berkreasi berdasarkan karya yang telah dibacanya tersebut. Menurut Aminuddin (2000), membaca karya sastra) adalah kegiatan yang cukup kompleks karena melibatkan beberapa aspek, baik fisik, mental, bekal pengalaman dan pengetahuan, dan aktivitas berpikir. Menurutnya, membaca adalah proses untuk mendapatkan tujuan tertentu dengan beberapa tahapan, yaitu persepsi (pengamatan), rekognisi (pemahaman arti), komprehensi pemahaman makna), interpretasi (pendalaman pemahaman), evaluasi (pemilihan), dan kreasi atau utilisasi (pengolahan).
Seorang pembaca yang kreatif akan bereaksi dan merespon karya yang telah dibacanya, memilih apa yang telah diperolehnya dalam proses pembacaan dan kemudian mengolahnya untuk mendapatkan kreasi baru atau tujuan tertentu. Proses inilah yang kemudian menghasilkan karya baru yang berasal dari karya sebelumnya. Hal ini biasa dikenal dengan hubungan intertekstual.
Demikian halnya dengan saya, interpretasi terhadap sajak “Sunyi” menjadi beragam dan hal tersebut masing-masing memiliki muaranya. Untuk sajak “Sunyi” hal pertama yang saya tangkap begitu mulai membacanya adalah sebuah kegamangan. Hal ini bisa saya lihat dengan keraguan Uda dalam memberikan judul terhadap puisi tersebut, antara “Sunyi” dan “Harapku Padamu” (judul yang diberikan kemudian). Secara gamblang kita memang langsung merasakan nuansa sepi, sendiri dan keinginan yang luar biasa tentang sebuah perjumpaaan. Pemilihan kata tampak begitu cermat, semua kata menganalogikan kesenyapan yang membawa pada suasana purbawi. Meski terkadang ada kesan “meremaja”, saya ingat di sebuah kolom khusus untuk siswa-siswa sekolah menengah pada majalah sastra “Horison” sajak-sajaknya bernuansa sama dan cara mengungkapan mereka hampir sama dengan Uda Rizal. Yang membedakan adalah gaya Uda Rizal dalam mengungkapkan kesunyian begitu lancar, runut dan mengalir. Seakan-akan kita disuguhi oleh lanskape alam dibalut dengan selaksa rasa syahdu yang menyiratkan rindu yang amat sangat.
Meski bukan merupakan suatu kebaruan, paling tidak hal ini bisa merupakan motivasi tersendiri di kalangan penikmat karya sastra dan juga penggiat sastra khususnya puisi di STKIP YPM Bangko. Rasanya terlalu sempit waktu saya dalam interpretasi sajak “Sunyi” Uda Rizal sehingga hanya dari hal yang kecil yang sempat mencuat. Namun setidaknya saya sudah berusaha lepas dari subyektifitas dan mencoba obyektif dan realisitis. Mudaha-mudahan saya bisa menelaah lebih jauh sajak tersebut. Semoga !
Selengkapnya...