Seperti suara-suara purbawi yang senantiasa memberi nuansa insani, seperti ini mestinya sastra kita. Dan mestinya juga nilai ini ada yang menjaganya, agar tetap segar dan memberi makna sastra yang sesungguhnya. Belakangan ini santer terdengar hingga pada telinga yang tuli sekalipun, tentang sastra pesanan. Wah, apalagi ini? Belum lagi kisruh sastra kapitalis dan sastra nonkapitalis yang juga entah bagaimana...
Berkenaan monolog Butet pada deklarasi pemilu damai pada pilpres 2009 pada 10 Juni, hal ini banyak yang menilai dan mempertanyakan kapasitas Butet berbicara di acara itu. Aku berpikir, tidak semestinya tampil di acara itu dengan membawa-bawa embel-embel kesastraannya. Atau sibutet dipesan dan mendapat ongkos yang begitu besar atas monolognya hingga melunturkan batas yang jelas antara politik praktis dan sastra. Jika mengutip Radar Panca Dahana, bahwa monolog butet salah tempat dan tendensius. Memang ada benarnya juga, perkara seni dan budaya mestinya bukan segmental dan bukan partisan apalagi budaya pesanan.
Salah tempat! Tetapi siapa yang bisa disalahkan dalam hal ini ? Butetkah, penyelenggarakah, pemesankah atau .... siapa sajalah yang punya kepentingan untuk itu. Masa bodolah, yang jelas sebagai wongsastra saya merasa teriris perasaannya ketika sastra budaya dikomersilkan seperti itu, kemudian bukan pada tempatnya butet ada di acara seperti itu. Akan lain halnya jika butet melakukannya di gedung kesenian, di sanggar sastra atau di manapun asalkan kapasitasnya adalah sebagai seniman yang selayaknya menyadari bahwa sastra untuk sastra, budaya ya untuk budaya. Bukan malah di acara resmi kenegaraan yang sifatnya menurut saya sangat sakral dan memang tak perlu adanya sikap yang dapat mengurangi nilai kesakralannya.
Lagi-lagi sastra budaya pesanan. Mestinya apa yang disampaikan juga merupakan pesanan si pemesan dan tentunya dengan embel-embel pesanan pula. Oh ya Bung Butet saya pesan, saya minta apa yang saya pesankan kepada sampeyan. Sehingga pesanan saya sampai kepada saya sesuai dengan pesan si pemesan.Semoga tidak, ya!









