Bentuk itu Bernama Seperti Kebenaran
(1)
Ketika tanah ini menjadi sarang drakula
maka keheningan malam buram
yang melahirkan sajak akan pupus juga
bau amis darah menua berdifusi
bersama angin yang enggan berhembus
entah dari mana. Tanah ini mati
tidak ada dengus nafas memburu seperti
ketika tanah ini masih bernama bumi
ketika huma masih membiaskan bianglala pelangi
merah, kuning, hijau memprisma
memetakan sketsa langit. Biru
tidak setitikpun hitam
hitam hanyalah noktah
yang mengeratkan kelam, buram kekejaman
dan segerumbul kenistaan
(2)
Ketika tanah ini mulai akrab dengan anyir darah
yang tertumpah dati pantat, telinga dan mulutmulut
yang hanya bisa berkata, “Mampuslah !”
Dan jika mantra itu mengalir menusuk merjan
Maka tercecerlah ke segenap penjurupenjuru
tempat sajaksajak mati sempat terlahir
hidup selintas
lalu habislah riwayat yang belum direncanakan
belum sempat dianggarkan berikut perincian alokasinya
harus terkulai dan berakhir tragis
sebelum puas mengakrabi udara yang terkontaminasi
kita harus hijrah
dari tempat yang bernama mati
(3)
Di atas reranting perdu
entah tetumbuhan apa
di bumiku tak pernah kutemukan
dari duludulu bahkan
jangan menjadikan terjebak oleh kabaruan
kesenangan yang bersimbiosis
dengan kejengkelan seperti di reranting itu
bertenggerlah drakula yang baru saja memangsa
seekor perawan tamat di malam laknat
lihatlah, betapa rakus menjilati sisa darah
lidah bercabang liar menguliti sekujur muka
bermainmain
sementara sekujur tubuh tergolek mati
bangkai perawan itu seakan berguman
hmm.....hmm...
Bangko 2002
Sajak ini pernah dimuat di Harian Suara Karya Jakarta pada edisi Kamis, 14 Maret 2002
27 Januari 2010
Sajak Jen Kelana : Sajak Miris
Diposkan oleh Jen Kelana Pada 22:44








