Jalanan tak lagi sepi. Deru kendaraan membahana memecah aspal. Sementara angin seperti malas beranjak membawa pesan damai. Aku masih saja berdiri diantara kaki-kaki yang kian lelah melangkah. Ada keengganan, ada keraguan, ada kebimbangan merajai hati. Inikah sebuah pertanda ?
Dalam keluh yang berkepanjangan, aku bergumam....
Di Sinilah....
Inilah kita wahai,
sejumput beban dalam rajutan
hari-hari
Inilah kita Duhai,
segenggam keniscayaan dalam rerumputan
malam-malam
Manakala setitik membias kelana
diantara jelaga dan roda-roda
di sinilah
jentera itu bertemu muara
pada sesiapa
O, inilah senja
yang latah melangkah dalam gerah
mencabik teja hingga
menelurkan bahasa yang
tidak juga dipahami
Lalu,
kata-kata hilang
menyulam kalimat
dan kemudian merajut bahasa
kita juga masih sendiri
tanpa kata
tanpa kalimat
tanpa bahasa
biasa
Bangko, 18 Februari 2010








